NiraBiru: Boleh ya Biru?
"Seriusan ini gue sekelas sama Biru, Ran?"
"Ya kan lo bisa liat sendiri itu ada nama Biru"
Aku sebenarnya tidak ingin jika harus satu kelas dengan Biru, sebab pasti akan terasa sakit saat liat ia setiap harinya dikelilingi oleh perempuan beruntung yang bisa mengobrol dengannya sedangkan aku tidak bisa dekat ataupun mengobrol. Aku telah menerima penolakan dari Biru sejak dua tahun yang lalu saat temanku dengan amat sengaja memberitahu Biru bahwa aku memiliki perasaan kepadanya. Sejak saat itu aku dan Biru menjadi jauh. Aku rasa Biru risih disukai oleh perempuan tidak cantik seperti aku.
Terasa amat mengesalkan ketika aku sekelas dengan Biru namun aku tak dapat berbicara dengannya. Biru duduk jauh dibelakang kelas, sedangkan aku bersama Rani duduk di baris kedua dari depan. Selama satu minggu aku hanya bisa melihatnya tertawa dan mengobrol dengan teman lainnya. Tanpa sadar aku ikut tersenyum ketika melihatnya tersenyum, meskipun senyum itu bukan untuk aku. Tapi Biru, aku sangat yakin bahwa senyuman itu nantinya akan bertuju untukku, meskipun sekali. Hanya sekali.
Satu minggu berlalu dengan suasana kelas yang tidak efektif, karena semua siswa laki-laki berkumpul duduk di bagian belakang-kecuali Nathan si pintar-sedangkan tengah ke depan isinya siswa perempuan.-dan Nathan-
Ketika sedang belajar bagian belakang bukannya memperhatikan guru malah asyik dengan kegiatannya sendiri. Karena hal itu wali kelasku meminta tempat duduk menjadi berpasangan laki-laki dan perempuan agar siswa yang laki-laki bisa serius belajar dan tidak berisik saat dikelas katanya.
"Yah kenapa sih harus duduk cewek cowok, gamau deh gue. Kecuali sama Nathan gua mau hahaha!"
"Mau lo itu mah! Tapi gue juga mau sih Ran sama Nathan, secara dia pinter, jadi gue bisa ketularan pinter."
"Dih! Punya gue mau lo embat juga, sama Biru aja tuh sana, kesempatan buat ambil hati dia."
"Yakali, gue aja udah ditolak mana bisa. Lagi serem Ran duduk sama Biru, bisa-bisa gue mati jantungan tiap liat dia."
"Hahaha Ra.. Ra.. jantungan emangnya dia setan yang jumpscare tiap saat apa? ada-ada aja lo ah"
Tak pernah sedikitpun terfikir olehku bisa duduk satu meja dengan Biru. Terlalu mustahil.
Wali kelasku menyerahkan sistem duduk cewek-cowok ini kepada ketua kelas. Sistem tempat duduk ini akhirnya disepakati oleh anak kelas dengan cara diundi dengan nomor. Disiapkan nomor sampai 18 dan dibuat dua undian setiap nomornya, satu untuk murid perempuan, satu untuk murid laki-laki. Jika mendapatkan nomor yang sama maka akan duduk bersama.
Aku masih ingat dengan jelas, aku mendapat nomor 11 dan berpasangan dengan Nathan. Lega dan senang sekali akhirnya aku bisa duduk dengan Nathan murid pintar dikelasku. Aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar menghadapi ujian nasional nanti.
Tapi tiba-tiba saja jantungku berdegup sangat kencang ketika ada suara yang sangat aku kenal memanggil namaku dari belakang kelas. Ya! itu Biru! Ada apa dia memanggilku? Apa aku membuat kesalahan? Ah entahlah aku tidak menyaut karena mematung tidak percaya bahwa Biru memanggil namaku. Aku takut dia ingin duduk denganku, ah tapi mana mungkin. Aku terlalu ge-er!
"Nira!" Biru memanggilku untuk kedua kalinya dengan suara yang lebih kencang, pikirnya mungkin aku tadi tidak mendengarnya. Lalu berjalan menuju tempat dudukku.
Aku menoleh, daripada nanti aku dibilang budeg lebih baik aku menyautnya.
"Iya kenapa?"
"Budeg lo ya?" Tuh kan betul!
"...."
"Lo mau tukeran tempat duduk ga?"
"Lo mau duduk sama Nathan, Ru?"
"Bisa mikir ga sih lo! Kan disuruhnya cewek-cowok, kalo gue sama Nathan namanya cowok-cowok"
"Ya terus?"
"Ya lo sama gue Niraaa, Nathan sama Mala"
ASTAGA!!! Ada apa lagi ini? Kenapa Biru? Apa maksud? Aku benar-benar hampir jantungan, sulit sekali untuk bernafas, rasanya oksigen diruang kelas menghilang begitu saja. Aku benar-benar mematung.
"Woi! Mau ga? Lah diem aja dia. Gue nanya Nathan aja dah."
"Nath tukeran ya, lo sama Mala?"
Nathan awalnya menolak, namun ketika mereka berbicara berdua, Nathan akhirnya setuju. Dan Biru sudah bertukar tempat dengan Nathan. Ia menaruh tasnya dibangku sampingku lalu duduk. Biru kini didekatku hal yang terkadang aku inginkan bisa bersebelahan dengan Biru. Tapi aku malah tidak bisa berkata-kata aku hanya diam, sedangkan Biru mengangkat suara berbicara menjelaskan kenapa dia bertukar dengan Nathan. Alasannya tidak jelas! Hanya karena dia tidak ingin duduk dengan Mala? Alasan macam apa itu! Gak masuk akal! Masa karena hanya tidak ingin. Jika seperti itu aku juga bisa dong minta tukar dengan yang lainnya, kan aku tidak ingin. Tapi aku tidak bisa protes. Sudahku bilang aku takut pada Biru. Sehingga aku hanya meng-iyakan lantas diam tanpa bicara apapun.
"Lo masih suka gue Ra?"
"Eh..."
ASTAGA BIRU! Dua kali aku hampir jantungan. Sudah ku bilang kalau seperti ini aku bisa-bisa mati jantungan. Biru selalu saja tidak bisa kita duga.
"Lo masih suka gue Raaa? Ah eh ah eh budeg lo ya? kayanya bener lo budeg deh"
"NGGA GUE GASUKA!"
"Ya biasa aja dong Ra, nge gas gitu salting lo yaaaa?? hahaha"
"Apasih gajelas udah dibilang gasuka! itu mah udah dulu dulu"
"Boong ah, gapapa kali kalo masih suka mah bilang aja."
"Gapapa? Bukannya dulu lo ya yang duluan jauhin gue karena lo tau gue suka sama lo?"
"Ya itu kan dulu, kalo sekarang gue lebih bisa menghargai perasaan orang. Suka itu hak masing-masing orang Ra. Jadi ya terserah lo mau suka, cinta, kagum, sayang sama gue itu hak lo. Begitu juga sama hati gue mau suka sama siapa ya hak gue. Gaada yang bisa maksa ataupun larang-larang kita Ra. Jadi sekarang santai aja kalau mau temenan dan kalo lo masih suka ya gapapa. Gue ga keberatan. Tapi lo gabisa maksa hati gue ya Ra.."
Biru kamu tahu? hal itu semakin membuat aku sakit. Dengan begitu kamu tidak terlihat jahat dan seperti menghargai perasaanku. Tapi Biru, pada kenyataannya kamu mengizinkan aku mencintaimu tapi disisi lain kamu tidak akan pernah memberikan hatimu. Seperti kamu membiarkan aku terus merasakan cinta bertepuk sebelah tangan. Kenapa tidak kamu lanjutkan saja menjauhiku Biru? dengan begitu aku bisa punya alasan untuk membencimu dan melupakan perasaanku padamu. Kalau dekat begini bagaimana bisa aku melupakanmu? Kalau kamu tiba-tiba baik begini bagaimana bisa aku membencimu?
Kamu adalah bentuk nyata yang terasa bagai fatamorgana
Kamu ada, bahkan sangat dekat dengan ku tapi sangat fana untuk bisa kupunya
Bahkan dalam sajakkupun kamu tidak menjadi milikku
Semuanya terdengar amat menyedihkan bukan?
Tapi bagiku semenyedihkan apapun jika tokohnya kamu, adalah cerita paling bahagia
Karena aku selalu mensyukuri temu yang pernah diberikan semesta
Setelah aku pikirkan, bukan suatu skenario yang buruk dipertemukan denganmu dalam kelas yang sama. Aku tetap bersyukur bisa sekelas denganmu, melihat senyummu di setiap hari-hariku. Tak apa terasa sakit, aku anggap itu sebagai bayaran agar bisa melihat senyummu, memastikan bahwa kamu selalu baik-baik saja. Bukankah seharusnya aku bisa memanfaatkan hal ini untuk bisa mengeluarkan segala rasa yang selalu ku pendam agar dapat terlupa. Bukankah untuk menghilangkan harus dikeluarkan? Jadi...
Biru, izinkan aku meminta satu hal;
Bisakah kamu membiarkan aku didekatmu? Walaupun sebagai teman, Tidak apa. Untuk bisa mengobrol hal-hal ringan seperti seorang teman tanpa rasa canggung. Aku ingin merasakan hangatnya canda dan tawamu, merasakan bahagia bersamamu. Hanya setahun Biru... Setahun. Tidak lebih.
Boleh ya Biru?
