Enam Hari : Aku tulis ini takut lupa
Pernah sesekali dalam hidup kita mencintai seseorang yang jauh sekali. Iya jauh, jauh jarak interaksinya. Akupun begitu, mencintai seseorang yang tidak pernah bisa ku sapa. Lidahku sangat kelu ketika ingin menyapanya, begitupun otakku yang terus berfikir sapa atau tidak ya? Padahal sebenarnya kalaupun aku sapa pasti dia juga akan menyapa aku balik. Tapi, karena aku tidak punya nyali yang begitu besar pada saat itu, jadi aku tidak berani menyapanya.
Selain jauh jarak interaksinya, aku pun jauh jarak ruangnya. Dia sebenarnya tinggal dan kerja di Kebumen kota asalnya. Ia sesekali ke Jakarta untuk bimbingan skripsinya dan itupun hanya semingu atau paling lama ya dua minggu. Kebayangkan kalian gimana rasanya jadi aku yang mencintai seseorang yang jauh. Sudah jauh interaksinya ditambah jauh jaraknya juga. Rasanya tuh ya Tuhan..... aku selalu diselimuti rasa rindu.
Pernah satu hari ia datang ke Jakarta entah untuk keperluan apa aku tidak tahu. Tidak bertanya juga meskipun aku sangat kepo, tapi yasudah aku tidak mau terkesan mencampuri urusannya. Di hari terakhir dia di Jakarta, aku memutuskan untuk menginap di sanggar organisasi tempat biasa dia juga menginap sementara saat ada bimbingan skripsi. Tenang bukan berduaan saja ada banyak anggota lain yang juga ikut menginap malam itu. Malam itu aku habis dari toilet, dan dia yang sedang duduk didepan sanggar menatapku dengan tatapan yang bisa dibilang tajam sekali. Aku tau dia hanya bercanda menatap seperti itu jadi aku berusaha mengumpulkan segala keberanian dan energi untuk hanya bertanya "kak kenapa sih kaka kalau natap gitu banget?" dia hanya tertawa dan balas "gitu gimana"
Ya! akhirnya dari kalimat panjang yang aku keluarkan pertama kali untuknya bisa membuat kami mengobrol banyak hal. Bahkan dia mendengarkan seluruh ceritaku dengan amat tenang hingga selesai, walaupun aku tau saat itu dia sedang buru-buru berkejaran dengan jam keberangkatan keretanya.
Bagaimana aku tidak jatuh cinta padanya. Dia ternyata sangat baik. Aku sangat menyesali kenapa tidak dari awal saja aku mengajaknya bicara tanpa harus merasa takut dan insecure.
Akhirnya setelah semua selesai obrolan, ia berpamitan untuk pulang ke Kebumen. Baru saja kita akrab namun dia sudah pergi lagi. Sedih sekaligus senang hari itu. Cepat kembali ya kak, ucapku pelan saat melihat punggungnya menjauh meninggalkan sanggar.
Selalu aku pantau sosial medianya, menebak-nebak apa kabar dia ya? karena memang ia jarang update sosial media jadi ya aku hanya bisa menatap post-an terakhirnya. Ingin chat namun aku masih terus mengumpulkan keberanianku dan terkadang aku hanya mengetik banyak huruf lalu tidak lantas menekan enter melainkan menghapusnya kembali. Takut-takut kalau pesanku hanya dibaca saja tidak dibalas. Kenapa ya? aku bisa mencintai seseorang yang kabarnya aja pun susah untuk aku tahu.
Setelah sekitar tiga bulan akhirnya aku dapat kabar dia datang lagi ke Jakarta, itupun hanya seminggu. Tentu saja aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Senin kemarin setelah selesai kelas, aku langsung menuju sanggar berharap segera bertemu dengannya, tapi ternyata dia sedang bimbingan skripsi alhasil aku harus menunggunya. Jam menunjukkan pukul 8 malam dia belum juga kembali, tapi aku harus pulang karena aku tak ingin ketinggalan bus. Sebenarnya aku saat itu sangat sedih, cape, dan ya bete. Bayangin aja aku tunggu dia dari jam 10 pagi sampai jam 8 malam, selama 10 jam aku ga ngapa-ngapain cuma nungguin dia yang dianya aja ga dateng-dateng. Tapi..... pas aku mau pulang dan lagi pake sepatu dia akhirnya datang! AHHHHH dia berdiri tepat didepanku. Aku bingung harus apa, kalian pasti tau kan rasanya kaget, salting, dan gatau harus mau ngomong apa. Ituuuu yang aku rasain. Tapi setelah itu aku gak jadi pulang, aku memutuskan untuk mengobrol dengannya sebentar, dan lagi-lagi kita mengobrol didepan sanggar tempat yang sama seperti sebelumnya. Ah sepertinya depan sanggar menjadi tempat sangat favorit bagiku.
Kita gak banyak ngobrol karena memang aku harus pulang, yah sekitar 15 menit kita ngobrol, menanyakan kabar masing-masing, yaudah gitu aja sih hehe. Tapi gapapa aku sudah cukup senang hanya dengan 15 menit melihatnya, mengajaknya bicara, menikmati senyumnya.
Hari kedua yaitu hari selasa aku tetap kembali ke sanggar bahkan aku menginap di sanggar. Aku gak mau sia-siain waktu seminggunya dia di Jakarta. Aku akan mencoba membuatnya jatuh cinta padaku meskipun itu sangat mustahil. Tapi kenapa tidak? gak ada salahnya kan mencoba...
Aku sudah bisa berdamai dengan otakku, maksudnya ya aku sudah tidak ragu lagi untuk mengajaknya bicara atau pun mengobrol. Aku senang bisa seperti teman lainnya yang bisa menikmati tawanya.
Aku sengaja untuk duduk depan sanggar yang kini jadi tempat favoritku. Tak lama dia datang, seperti biasa aku senyum-senyum salting. Dia sudah pasti bisa melihat salting ku. Bagaimana tidak, dia seorang guru BK yang pandai mengamati ekspresi seseorang. Dia duduk sampingku kita ngobrol lagi. Dia nanya dengan sesuatu yang tidak jelas, seperti tidak terbentuk kata, tapi aku tau dia mau nanya apa.
"Vi kamu katanya ssss...wlelljkdjsgfjak sama saya?" Astagfirullah pertanyaan alien macam apa ituu. Aku tau maksud dia mau tanya apa. Pasti dia mau tanya "Vi kamu katanya suka sama saya?" tapi entahlah kenapa dia tidak menanyakan itu secara jelas. Padahal kalau dia bertanya dengan jelas pasti akan aku jawab iya. Aku tau kok, dia tau kalau aku suka sama dia karena memang sikapku menunjukkan jelas aku suka dia, dari sikapku yang sering salting, belum lagi semua warga sanggar tau aku suka sama dia karena aku sering mention nama dia kalau dia lagi gak ada. Aku ingin sekali mengatakan aku suka dia, tapi kayanya nanti dulu deh.
Selalu aku curi pandang ke dia, waktu dia tertawa, karena senyum dan bahagianya itu manis, manis banget. Dia bisa tertawa dan bahagia hanya dengan hal sederhana, sesederhana nonton Boboiboy. Iya betul Boboiboy. Hahaha aku suka deh dia mengobati rasa lelahnya, kekusutannya hanya dengan hal-hal sederhana. Pantas saja aku mencintainya pun dengan amat sederhana.
Selama satu tahun aku memendam perasaanku untuknya. Aku gak bisa lagi untuk terus menyembunyikan ini. Semakin lama semakin besar, semakin aku lihat dia, aku tahu rasa ini bukan hanya sekedar suka. Kalian tau kan rasa suka yang cuma kagum gitu yang sesaat doang, bukan yang pengen milikin gitu, tau kan???? Nah yang aku rasakan bukan cuma itu. Rasa suka aku terus berganti menjadi rasa cinta. Bagaimana ya mendeskripsikannya..
Iya aku jadi terus mikirin dia setiap hari, suka kalau liat dia bahagia, ingin jadi bagian dari bahagianya, ingin jadi orang yang ada disamping nya mendengarkan kisah hari-harinya yang gak banyak itu, ingin jadi sandaran ketika dia lelah, ya pokoknya gitu deh. Kalian tau lah yaa..
Aku gak bisa terus-terusan mencintai dalam diam, dia harus tahu kalau aku suka dia. Perasaanku juga berhak dilihat. Aku memutuskan untuk confess ke dia. Aku tau ini beresiko. Hanya ada kemungkinan besar saat aku confess ke dia, yaitu aku ditolak. Tapi aku lebih milih kemungkinan ditolak itu daripada aku harus menjawab rasa penasaranku dengan ketidakmungkinan. Jadi ya walaupun dia gak suka aku tapi dia harus tau. hehe..
Hari keempat aku memutuskan untuk menyatakan padanya. Di jam setengah enam sore aku bilang sama dia tentang perasaanku. Deg-degan banget, respon apa ya yang akan dia kasih ke aku. Dia cuma senyum natap aku yang gak berani natap dia. Dia pun bingung mau respon apa.
"Terimakasih"
Itu yang dia katakan. Terimakasih sudah berani mengungkapkan. Terimakasih sudah hebat. Dia mengapresiasi atas rasa yang aku punya. Dia tidak menghakimi perasaanku sama sekali. Ia mengerti. Tapi memang cinta adalah hak masing-masing orang. Aku gak bisa maksa dia buat suka sama aku. Dia juga punya hak untuk mencintai orang lain.
Aku senang akhirnya lega, aku tidak perlu menyembunyikan apapun lagi. Tapi aku juga sedih karena memang bukan aku yang dia cinta. Ya betul. Aku dapat penolakan. Sakit sudah pasti. Tapi karena memang dari awal niat aku hanya menyatakan tanpa berekspetasi apapun, aku mampu menerimanya dengan lapang dada. Aku mampu untuk tidak larut dalam kesedihan. Ini menjadi pertama kalinya aku tidak menangis ketika mendapat sebuah penolakan. Karena memang dia gak mengatakan hal yang menyakiti. Bahasanya begitu amat sopan. Bahkan ia menyemangatiku. Dan ini jadi pertama kalinya juga aku tidak canggung setelah menyatakan perasaan. Karena memang dia yang begitu baiknya, masih mengajakku ngobrol sampai hari terakhir dia di Jakarta kemarin.
Sejak saat itu aku belajar setidak masuk akal apapun yang terjadi kalau kita mencintai seseorang, katakan saja. Supaya tidak ada penyesalan di akhir. Bahkan ketika ditolak pun tidak apa-apa, karena gak semua perasaan jawabannya harus iya. Kita gak bisa maksa hati seseorang untuk membalas perasaan kita. Menyukai seseorang bukan berarti kita harus memilikinya.
Untuk kamu yang sejak tadi kusebut dengan kata "dia". kamu itu dicintai banyak orang, berat ya sainganku? lantas, kenapa aku masih berharap? dan sekarang, aku ingin mengatakan terimakasih dan maaf atas semua perasaan ini..
Terimakasih sudah tidak menghakimi atas segala rasa yang aku punya. Terimakasih sudah menjadi orang baik yang tidak meninggalkanku dan tetap menjadikanku sebagai seorang teman. Aku bahagia bisa kenal denganmu. Mengenalmu adalah hal yang indah. Terimakasih atas enam hari yang sangat berkesan bagiku. Terimakasih telah menjadi bagian proses pendewasaanku dan juga sempat menjadi kebahagiaan yang aku harapkan berujung sempurna untuk kedepan, meskipun tidak demikian. Dan aku juga ingin meminta maaf karena sudah sudah di cintai oleh orang seperti ku, aku tidak tau kamu terbebani atau kamu tidak perduli tapi yang intinya aku meminta maaf. Dan maaf juga ini bukan menjadi akhir dari tulisanku tentang kamu. Karena aku akan masih terus mencintaimu sampai waktu dimana aku harus berhenti.
Setelah membaca tulisan ini aku harap kita masih bisa berteman baik. Semoga kamu selalu dalam keadaan baik dan bahagia ya disana. Aku pun akan bahagia disini. Semoga aku bisa bertemu sama kamu lagi kapanpun itu meskipun hanya untuk sekedar menyapa.
Ku akhiri tulisan ini.
Aku, Silvia.

0 komentar