NiraBiru: Kali ini untukku
Bisa satu kelas dengan orang yang kita suka ternyata menjadi salah satu hal yang terkadang menjadi sangat menyenangkan. Bisa lihat senyumnya dari dekat tanpa harus sembunyi-sembunyi, bahkan kita jadi bisa berbincang dengannya sedikit lebih lama. Itulah yang aku rasakan ketika bisa satu kelas dengan Biru.
Kini aku lebih mengenal Biru, jika sebelumnya aku harus sibuk memandangi Biru dari jauh, selalu bertanya-tanya tentangnya, tapi sekarang aku bisa langsung menanyakan kepada Biru apa yang aku ingin tahu. Banyak dari sifat Biru yang baru ku ketahui.
YA BIRU!
Seseorang yang sangat keras kepala, setiap bicara sudah dipastikan menarik "urat"-sehingga terlihat jelas pada lehernya-, apalagi jika berbicara denganku. Menyebalkan sekali! Seperti aku dimarahi olehnya sepanjang hari.
Ia juga tidak pandai menutupi perasaan. Rasa sedih, senang, marah, tidak suka terhadap seseorang, bingung, semuanya akan tergambar jelas dalam raut wajahnya. Jadi siapapun pasti bisa menerka mood Biru.
Itu lah Biru, meskipun ia memiliki sifat keras ia tetap punya sisi yang sangat hangat dan perhatian. Kalian harus benar-benar mengenal Biru jika ingin lihat Biru yang hangat dan perhatian.
"Mtk udah Ra?"
"Udah"
"Liat dong Ra! Gue belum nih!"
Aku langsung mengeluarkan buku tulis matematika-ku dari dalam tas lalu memberikannya pada Biru tanpa berkata. Ia memang selalu saja lupa mengerjakan PR nya, entah lupa atau memang malas. Biru sebenarnya cukup pintar, seperti pr matematika yang sedang ia salin sekarang bisa dengan mudah ia kerjakan sendiri, hanya saja ia datang terlambat jadi tidak ada waktu untuknya menghitung sendiri.
Mengenai Biru entah mengapa aku tidak pernah bisa untuk tidak suka padanya. Aku selalu suka Biru dari sudut manapun. Seperti saat ini aku sedang melihatnya menyalin pr ku, wajahnya itu terlalu tampan. Ah tidak sepertinya, tapi benar-benar adem aja gitu bawaanya melihat dia sedang menulis dari samping dari jarak yang sangat dekat. Bahkan aku rasa Biru dapat merasakannya bahwa aku menatap dirinya tanpa kedip sedikitpun. Ah pokoknya suka sekali. Sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekaliiiiiiiiiiiiiiiii. Hehehe.
Biru kamu menjadi satu-satunya orang yang ingin selalu aku tatap disetiap pagiku. Manusia yang selalu ingin aku liat senyumnya mengembang tanpa ragu. Manusia yang selalu ingin aku pastikan bahwa setiap harinya akan baik-baik saja. Tapi, apakah semua itu akan mungkin terjadi Ru? Aku selalu percaya bawa tidak ada yang mustahil didunia ini. Tapi, rasanya kemustahilan itu sungguh nyata Ru, ketika aku mengharap bawa kamulah yang akan menjadi pasangan dalam hidupku.
Sejenak kupandangi wajahmu saat ini, karena barang kali aku hanya punya kesempatan kali ini saja.
"Udah Ra, makasih ya" Biru mengembalikan buku matematikaku dan aku tetap memandanginya tanpa ingin menyudahinya.
"Ra udah"
Aku tau kamu sangat tidak nyaman dengan ini Ru, tapi maaf sekali ini saja Ru, biarkan aku memandang lekat wajah itu. Wajah yang aku tidak tau akan kah dapat aku lihat kembali atau tidak setelah lulus sekolah nanti. Maaf Biru...
Akhirnya bel masuk mengakhiri kegiatan memandangku, termasuk ketidaknyamanan Biru.
Kelas pagi ini membuatku bersemangat karena diawali dengan mata pelajaran yang aku sukai yaitu matematika lalu dilanjutkan mata pelajaran sejarah sebelum akhirnya bel istirahat pertama berbunyi. Aku merasa sangat antusias dengan materi hari ini, hingga aku terus mengerjakan soal-soal matematika yang seharusnya menjadi PR. Saat bel istirahat berbunyi aku tidak beranjak dari tempat duduk ku dan masih menyelesaikan soal matematika.
"Ra udah kali, buset itu PR RA PR!"
"Nanti lu juga ujung-ujungnya liat punya gue Ru"
"Haha iya nanti gua liat ya. Tapi istirahat dulu Ra kasian otak lu, nanti gila"
"Diem deh Ru"
Biru akhirnya diam dan dia merogoh tasnya mencari uang lalu memasukkannya ke dalam saku. Biru siap meluncur ke kantin untuk mengisi perutnya yang sejak tadi terus saja berbunyi.
"Wat, kantin ngga? mau nitip dong aus banget nih" Tanyaku pada Wati yang duduk tepat didepanku.
"Ngga, Ra gua bawa bekel. Ini minum gue aja Ra"
Aku akhirnya meminta sedikit minum Wati untuk membasahi tenggorokanku yang sejak tadi sudah sangat haus.
Percakapanku dengan Wati tidak sengaja terdengar oleh Biru yang ternyata ia masih didepan pintu menunggu temannya.
Dua puluh menit sudah berlalu, waktu istirahat hampir usai, tapi aku masih malas untuk beranjak dari tempat dudukku meskipun kini aku telah menyelesaikan "PR matematiku". Aku bertumpu pada tanganku dimeja bersiap untuk tidur di lima menit terakhir waktu istirahat. Belum sempat aku menundukkan kepalaku, Biru masuk kelas dengan membawa sebotol air mineral lalu memberikannya padaku. IYA BIRU! Kalian tidak salah baca. Benar ia memberikannya padaku.
"Nih Ra ucapan makasii gua ya, udah dikasih liat PR tadi pagi."
"Ru tahu aja kalo gue lagi haus. Makasih" Aku bersikap seolah biasa saja, padahal sejatinya aku sangat ingin jungkir balik saat ini juga. Jantungku berdegup sangat kencang, kupu-kupu memenuhi seluruh perutku. Semua rasa penatku menguap begitu saja. Rasanya ingin teriakkkkkkk. Bagaimana tidak, SEORANG BIRU berinisiatif membelikanku minum. IYA SEORANG BIRU. WAH rasanya hampir gila mendapat sedikit perhatian dari Biru.
Aku terus saja senyum-senyum seharian hingga pulang sekolah bahkan sampai rumah pun aku masih terus senyum memandangi botol air mineral yang Biru berikan. Aku tau ini seperti orang gila, tapi kapan lagi aku mendapat perhatian Biru. YA GAK?
Hari ini ditutup dengan banyak hal manis. Hari yang akan aku kenang dalam hidupku, yang pastinya tak akan terlupa.
_____________
Hari telah berganti. Aku masih saja merasa salting dengan kejadian kemarin. Aku masih belum bisa menghilangkan senyum dari wajahku bahkan saat aku baru bangun tidur seperti saat ini. Untuk mengawali pagi yang semoga saja bisa seindah kemarin, aku berniat mengirim email pada Biru. Tentu saja dengan email anonim. Lantas aku langsung mengetikan isi pesan yang tidak banyak lalu tekan kirim. Setelah itu aku beranjak untuk siap-siap pergi ke sekolah.
Saat ini aku sudah berada di sekolah sedang mengobrol dengan beberapa teman-teman. Aku duduk diatas meja menghadap pintu sembari menunggu kehadiran Biru. Biasanya ia akan datang mepet waktu bel ataupun terlambat. TAPI INI masih terlalu pagi untuk Biru datang.
Biru datang memasuki pintu. Ia langsung menuju ke hadapanku lalu memberikan senyum manis tepat didepanku. WAIT BIRU SENYUM PADAKU? SENYUM?
"Pagi Ra. Ini senyum gua buat lu"
WAHHHHHHH AKU TIDAK BISA MENYEMBUNYIKAN RAUT WAJAH SENANGKU YANG MEMERAH.
Beneran Biru senyum padaku. Aku senang sekali ia senyum padaku. Akhirnya senyum itu memang tertuju untukku. Akhirnya kali ini untukku. Memang untukku.
Tapi tak berapa lama aku sadar. Biru berangkat lebih pagi dari biasanya. Biru memberikan senyum padaku. Tunggu......
Tadi pagi aku mengirim email berisikan bahwa aku ingin melihat senyumnya. Lalu kini Biru memberikan senyum langsung padaku?
Apakah Biru tau bahwa email tersebut dari aku? Ru........... ?
Teruntuk tuan Biru.
Pagi gaakan lengkap, apa lagi hangat.
Jika aku belum lihat senyum manis mu yang teramat memikat.
.
.
.

0 komentar