Mata yang Tak Berani Kutatap
by
pipih
- Januari 23, 2025
"Tatap mata saya kalau bicara," katanya.
Suaranya lembut, tapi ada sesuatu dalam nada itu yang membuatku berhenti sejenak, menahan napas, dan kembali menunduk. Bukan karena aku takut atau tak menghormatinya, tetapi karena menatap matanya adalah tantangan yang terlalu besar untukku.
Matanya... ah, matanya adalah sesuatu yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata sederhana. Terlalu teduh, seperti danau yang menyimpan ribuan rahasia. Aku takut tenggelam di sana, terseret ke dalam kedalaman yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku tahu, jika aku membiarkan diriku menatap lebih lama, aku akan jatuh lebih dalam.
Tapi bukan itu yang membuatku menghindar. Bukan keteduhannya yang menyakitkan, melainkan kenyataan bahwa aku tahu, aku tak pernah memiliki hak untuk berada di sana. Matanya bukan untukku. Ada nama lain yang terukir dalam kilaunya, ada cerita lain yang diceritakan oleh setiap tatapan itu. Dan aku? Aku hanya seorang asing yang berdiri di luar, berharap pada sesuatu yang tak pernah menjadi milikku.
Kadang-kadang, aku bertanya-tanya, apa rasanya jika aku cukup berani untuk menatapnya? Apakah dia akan tahu betapa aku ingin tinggal di sana, di balik sorot yang seolah memeluk seluruh dunia? Tapi aku tak pernah mencoba, karena aku tahu, menatap matanya hanya akan mengingatkanku pada kenyataan pahit: aku hanyalah bayangan yang lewat.
Aku mulai menyadari bahwa terkadang, ada sesuatu yang lebih menyakitkan daripada ketidakmampuan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan—yaitu kesadaran bahwa kita tak akan pernah menjadi bagian dari itu. Mata itu bukan hanya tentang tatapan, tapi tentang seluruh dunia yang mengelilinginya, dunia yang tak pernah bisa aku masuki. Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk berada di sana, dan itu, entah bagaimana, adalah kenyataan yang harus kuhadapi.
Jadi aku tetap menunduk. Tidak karena aku tak ingin, tetapi karena aku tahu, ini adalah caraku melindungi hati yang rapuh. Tatapan itu terlalu indah, terlalu dalam, dan terlalu bukan untukku. Dan mungkin, begitulah seharusnya. Beberapa hal memang diciptakan untuk dikagumi dari kejauhan, tanpa pernah benar-benar digenggam. Aku hanya bisa merenung, dan terus menyadari bahwa ada banyak hal indah dalam hidup ini yang tak pernah benar-benar kita miliki, tetapi tetap layak untuk dihargai.
