Aku si Bungsu
Kadang menjadi anak terakhir bukan tentang dimanja, tapi tentang menanggung yang tak terlihat.
Kadang aku lupa bagaimana rasanya dimengerti, karena seumur hidup aku terlalu sibuk memahami.
Aku juga ingin bangga, menjadi anak perempuan yang berusaha merangkul semua luka yang pernah melingkupi keluarganya. Aku yang selalu siap menjadi pendengar saat rumah terasa penuh oleh amarah, dan harus menjadi juru bicara ketika dua hati yang kucintai memilih saling diam. Sejak kecil aku terbiasa memahami, memaklumi, dan menengahi. Hingga tanpa sadar, aku lupa bagaimana rasanya dimengerti.
Aku tumbuh dengan banyak peran yang tidak pernah kupilih. Harus memahami setiap sudut pandang: orang tua, saudara, teman tapi tidak punya ruang untuk menyuarakan punyaku sendiri. Setiap kali aku mencoba mengambil langkah menjauh demi menenangkan diri, selalu ada yang menudingku egois. Padahal aku hanya ingin istirahat dari peran sebagai “penjaga perasaan semua orang.”
Menjadi anak bungsu bukan hanya tentang tawa dan keringanan hidup. Terkadang, justru tentang kelelahan yang tidak pernah diucapkan. Tentang bagaimana aku harus berlari mengejar masa depan, berkejaran dengan umur orang tua, sambil menatap ke belakang memastikan orang tuaku masih baik-baik saja. Di dunia yang serba cepat dan berani ini, aku masih punya banyak takutnya. Tapi aku berjanji, Bu, Pak, walau langkahku mungkin sedikit lambat, aku tetap berjalan. Aku sedang berusaha semampuku untuk membuat kalian bangga.
Namun ada bagian hidup yang tak pernah benar-benar pulih: hubunganku dengan kakakku. Tidak mudah menghapus kecewa terhadap darah daging sendiri. Aku sering merasa iri melihat orang lain yang memiliki kakak penyayang, yang menjadi pelindung, yang bisa diandalkan. Di saat orang lain punya figur yang mereka banggakan, aku justru belajar menahan sakit karena orang yang seharusnya melindungi malah melukai.
Orang-orang sering berkata, “Dia tetap kakakmu, bagaimanapun juga.” Tapi kalimat itu tidak pernah menenangkan. Aku hanya tersenyum, meski di dalam hati aku berantakan. Kadang aku bertanya pada Tuhan, kenapa harus begini? Kenapa justru luka terparah datang dari rumah sendiri? Dan di saat-saat paling sunyi, aku bahkan pernah berdoa semoga mautku datang lebih dulu, bukan karena aku lemah, tapi karena aku ingin dia tahu, betapa dalam pedih yang aku simpan sendirian.
Melihat “abang” orang lain yang bertanggung jawab, lembut, dan berjuang untuk keluarganya sering membuatku terdiam lama. Ada rasa iri yang halus, tapi bukan iri yang ingin merebut hanya kerinduan pada sesuatu yang tidak pernah aku miliki.
Jika benar kehidupan selanjutnya ada, maka jangan bertemu denganku lagi, dan jangan jadi kakakku lagi. Kamu adalah luka.
Aku anak bungsu, tapi bukan berarti aku paling kecil dalam rasa. Aku anak bungsu, tapi juga saksi dari letih yang tak pernah diceritakan. Aku anak bungsu, yang sedang belajar berhenti mewarisi luka, dan mulai belajar menyembuhkannya.
Kini aku mencoba tumbuh, tanpa harus terus mengerti semua orang. Aku belajar mengenali diriku, membangun keberanian untuk mengatakan “aku juga lelah”, tanpa merasa bersalah. Karena di balik semua peran dan pengertian yang aku berikan, aku hanya ingin satu hal: akhirnya dimengerti.
