Dewasa

by - Juli 22, 2021

    Petang tadi setelah aku selesai berkutat dengan pekerjaan ku yang sungguh sangat membosankan, aku memutuskan untuk bermain dengan anak kecil sekitar rumah. Umurnya beragam. Dari umur 4 tahun sampai 13 tahun. 

    Kulihat ada tiga bocah yang sedang bermain kartu uno. Akhirnya memutuskan bermain sama mereka. Diantara tiga yang paling kecil, ia kelas 2 SD, dan yang kedua lainnya kelas 5 SD dan 1 SMP. Kalau umurku,,, tidak usah dijelaskan lah ya, pokonya aku yang paling tua. 

    Dimulai lah permainan pertama, berjalan dengan mulus dan aku keluar sebagai pemenang pertama. Hahaha aku jago dalam bermain kartu, tapi hanya kartu uno :) Lalu kuperhatikan permainan uno yang masih sedang berjalan itu. Kulihat pemain yang paling kecil disana mendapat banyak kartu skip dari lawannya, dan jadi kalah dalam permainan. Tapi ia masih bisa tersenyum dan mengajak permainan kedua.

    Permainan kedua pun dimulai. Hufft kali ini yang keluar sebagai pemenang pertama bukan aku, menyebalkan. Yang memenangkan si anak kelas 5 SD. Menyisakan aku dan dua anak lainnya. Aku dan anak yang paling kecil terus bermain berdua dan terus-terusan memberikan kartu skip kepada anak yang satunya. Karena terus-terusan dilewati, anak yang kelas 1 SMP ini marah dan ngambek sepanjang permainan. Permainan jadi sedikit canggung. Aku mengeluarkan kartu terakhirku, dan keluar sebagai pemenang kedua, menyisakan si paling kecil dan si anak SMP. 

    Kulihat kartu si anak paling kecil ini sangat bagus, bisa langsung dikeluarkan semua dalam satu kali jalan. Namun ia mengeluarkannya justru satu persatu. Bukan, bukan karena ia tidak mengerti, dia sangat mengerti permainanya tapi dia memang sengaja. 

    "itu keluarin semua aja, kamu bisa langsung menang" ucapku menyuruh si anak paling kecil.

    "tidak mau, aku mau main santai aja" jawab si anak paling kecil.

    Aku heran, kenapa dia menyiakan-nyiakan kesempatan. Dan akhirnya pemenang ketiga dimenang oleh si anak SMP. Dia pun tertawa dan senang. Marah dan ngambeknya hilang dalam sekejap karena dia sudah menang. Dan si anak paling kecil juga tertawa senang. Akupun akhirnya mengerti bahwa si anak kecil memang sengaja membuat dirinya kalah, supaya si anak SMP bisa kembali senang. 

    Setelah bermain beberapa putaran, kami memutuskan untuk menyudahi permainan. Dua anak lainnya sudah pulang menyisakan aku dan si yang paling kecil. Aku masih tetap penasaran kenapa ia memilih mengalah.

    "Kenapa tadi kamu ga menangin aja ?" Tanyaku

    "Permainan kan bukan buat menang atau kalah, tapi buat bikin kita seneng. Tadikan kaka yang itu marah gara-gara kartu dia masih banyak, kalo tadi aku menangin nanti yang seneng kita doang, dia engga. Kalo aku kalah kan dia seneng aku juga tetep seneng kita semua seneng." Jawaban yang begitu dewasa keluar dari seorang anak berumur 7 tahun. 

    Aku benar-benar takjub padanya. Bagaimana bisa ia yang umurnya jauh lebih muda bisa menurunkan egonya dan bersikap lebih dewasa dari temannya yang umurnya jauh lebih tua diatasnya, masih bisa memikirkan perasaan orang lain. Sedangkan aku pun tadi masih bersikap egois. Aku sangat tertampar oleh sikapnya yang begitu dewasa. Sungguh aku sangat kagum pada sikapnya.

    Pelajaran yang kudapatkan kali ini berasal dari seorang anak kecil yang jauh lebih muda dariku adalah dewasa bukanlah sebuah umur, tapi dari sikap dan pemikirannya yang jauh lebih matang itulah dewasa. 

You May Also Like

0 komentar