Karena Tangis bukan Dosa

by - November 21, 2022

 "menangislah jika ingin, tidak perlu malu, tidak perlu takut. tangisan bukanlah sebuah dosa."

Seseorang yang dengan wajah teduhnya pada malam itu, memberitahu ku bahwa sebuah tangisan bukanlah sebuah dosa. bukanlah sebuah tanda bahwa kita lemah. Tapi dengan menangis justru menjadi satu-satunya cara untuk kita mengungkapkan sebuah luka yang sudah tidak lagi bisa kita keluarkan melalui kata-kata. Kesakitan dan keperihan diubahnya menjadi bulir air yang setelahnya habis, menjadi terasa sangat menenangkan. 

Dalam setiap masa, setiap perjalanan, ku lalui dengan menjadikan diri sebagai sebuah sandaran bagi kepala-kepala lain yang merasa lelah. Terus mengencangkan bahu menguatkan segala insan yang butuh dikuatkan. Tanpa peduli diri sudah serapuh apa. yang terpenting adalah orang disekitarnya tidak ada yang merasa sendiri. Terus menjadi pendengar hingga aku lupa caranya bercerita, hingga aku memiliki rasa gengsi untuk meluapkan bebanku dan menangis untuk sekedar menjadi lebih tegar. Memaksa diri untuk terus kuat didepan orang-orang supaya tidak terlihat menjadi beban bagi mereka yang ingin bersandar. 

Tanpa disadari aku telah egois pada diriku sendiri, menghakimi diri, munafik karena tidak mau mengakui bahwa ternyata akupun butuh untuk dikuatkan, butuh untuk didengar ceritanya. Aku terlalu sombong, selalu ingin bisa jadi penguat, selalu ingin bisa jadi sebuah tempat pulang bagi orang-orang. Tapi aku tidak merawat diriku sebagaimana menjadi sebuah rumah yang layak untuk disebut sebagai tempat pulang. 

Malam itu ketika untuk pertama kalinya bisa menceritakan tentang segala ketakutan dalam diri, akhirnya aku sadar bahwa aku juga perlu meluapkan dan membuang segala bebanku. Aku perlu merawat diriku yang ku ibaratkan sebuah rumah, membersihkan rumah dari segala macam hal yang telah usang, memperbaiki bangunan yang mungkin telah rapuh, memperkuat pondasi supaya tetap kokoh untuk dijadikan tempat pulang yang nyaman tanpa harus takut hancur. 

Dengan itu aku kini tidak ragu lagi untuk menangis mengeluarkan setiap rasa yang menyakitkan, sebab kini aku tau menangis bukan tanda bahwa aku lemah ataupun hal yang memalukan, tapi dengan aku menangis aku dapat membuang segala hal yang usang dan rusak. Kugantikan dengan ketegaran dan penguatan bahu. 


Teruntuk seseorang yang malam itu sudah mau meluangkan waktunya untuk mendengarkan keluh kesahku, aku ingin sekali mengucapkan terimakasih.

Terimakasih telah mau memanggilku lebih dulu dan menanyakan apakah ada satu hal yang buatku bimbang. Walaupun aku tahu yang kau tanyakan bukan segala tentang masalah dalam hidupku, melainkan tentang masalah yang menyangkut dengan keberlangsungan organisasi yang kamu dan juga aku ikuti. Tapi dengan pertanyaan awal itu aku jadi terus bercerita hingga aku mengeluarkan segala hal yang menjadi kekhawatiran dalam hidupku. Dan kamu dengan sabarnya dan perhatian seorang kaka tetap mendengarkan apa yang aku luapkan, tanpa memotong pembicaraanku, tanpa menghakimi atau membandingkan ceritaku. Padahal saat itu aku sangat yakin bahwa kamu sedang buru-buru dikejar waktu dengan jam keberangkatan keretamu, tapi kamu tetap duduk tenang mendengarkan keresahanku hingga habis. Bahkan kamu banyak memberikan sebuah kalimat yang menenangkan diriku yang mungkin tanpa kamu sadari. 

Terimakasih sudah menjadi sosok yang perhatian bagi sekitarmu. Memancarkan sinar bagai lilin dalam gelap. 

Tak ada yang bisa kukatakan selain kata terima kasih yang amat banyak. Semoga kamu selalu dikelilingi oleh hal baik. 

You May Also Like

0 komentar