Untuk Aaf, yang Selalu Ada Dalam Diamku
Aaf, kamu tahu tentang kisah Karang Samudra Daneswara? Tokoh dalam novel yang aku suka. Kisah yang mengajarkan aku banyak tentang arti ketulusan cinta. Di sana, ada Karang yang pernah berkata pada Launa, perempuan yang dia cintai, “Cinta itu tidak bisa dijelaskan seberapa besarnya. Orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, seluas samudra, bahkan setinggi langit. Namun, tidak ada seorang pun yang bisa menakar seberapa cinta itu dengan logika.”
Dan saat aku membaca kalimat itu, entah kenapa hatiku langsung berhenti sejenak. Seolah-olah Karang sedang meminjamkan suaranya untuk aku, supaya kamu mengerti, betapa aku juga tak pernah tahu cara menjelaskan seberapa besar aku mencintaimu.
Yang aku tahu, cinta ini ada di setiap hembusan nafasku. Sesederhana jantung yang membutuhkan detak untuk hidup, sesederhana itu... tapi juga sedalam itu.
Aaf, mungkin bagimu aku hanyalah seseorang yang biasa saja. Seseorang yang hadir tanpa pernah kamu harapkan, tanpa pernah kamu panggil. Tapi buatku, kamu adalah nama yang selalu hadir dalam setiap doa yang kusebut dalam diam, dalam harap, dalam rindu yang tidak pernah habis meski waktu terus berjalan.
Aku akan selalu menunggumu. Entah itu satu hari, satu bulan, satu tahun, atau bahkan... mungkin selamanya.
Aku tahu, menunggu bukan pekerjaan mudah. Tapi untukmu, Aaf, aku rela jadi bodoh dalam hal waktu, karena ternyata aku sangat pintar dalam hal menunggu. Menunggu kamu, tanpa tahu apakah kamu akan pernah kembali.
Aaf, maaf jika aku hanya bisa mencintaimu dengan sederhana. Aku tidak bisa menjanjikan kisah megah seperti cerita dongeng, yang penuh kejutan dan akhir bahagia. Aku tidak bisa menjanjikan dunia, atau bintang-bintang di langit. Yang bisa aku janjikan cuma satu: perasaan ini. Cinta yang tidak pernah pergi, meski kamu sudah memilih jalanmu sendiri.
Mungkin kamu sudah jauh melangkah, mungkin juga kamu sudah lupa. Tapi aku masih di sini.
Menunggumu.
Dengan cara yang sama seperti jantungku berdetak.
Tanpa pernah berhenti.
Tanpa pamrih.
Tanpa harap kau harus kembali.
Aaf, kamu adalah nama yang tidak pernah bisa aku hapus, bahkan ketika dunia memaksaku melupakan. Kamu adalah rumah yang tidak pernah selesai kubangun, meski kamu tidak pernah berniat tinggal.
Dan kamu adalah alasan, kenapa aku tetap belajar sabar dalam cinta, meski aku tahu, cinta ini tidak pernah cukup untuk membuatmu memilihku.
Jadi, jika suatu hari kamu bertanya kenapa aku masih bertahan, jawabannya sederhana.
Karena mencintaimu adalah satu-satunya hal yang tidak pernah membuatku merasa menyesal, meskipun itu hanya aku tidak dengan kamu.
Untuk kamu, Aaf.
Selalu.

0 komentar